Breaking News

Kunjungan Suwardi Haseng Ke Buludua Coffee Cerminkan Perhatian Pada Potensi Pengembangan Wisata Lokal


Ruangkritik.com, SOPPENG — Komitmen Bupati Soppeng, Suwardi Haseng, dalam mendorong kemajuan destinasi wisata lokal kembali terlihat melalui kunjungannya ke Buludua Coffee yang berada di Jalan Poros Buludua–Pekkae, Kabupaten Soppeng.

Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Soppeng tersebut menjadi bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap potensi wisata alam yang dimiliki daerah berjuluk Bumi Latemmamala itu. Dengan panorama pegunungan, hamparan persawahan, hingga suasana kabut yang khas, Buludua Coffee dinilai memiliki daya tarik besar untuk berkembang menjadi salah satu destinasi unggulan di Soppeng.

Tidak hanya menikmati suasana, Bupati Soppeng juga secara langsung memperkenalkan keindahan Buludua kepada masyarakat. Di lokasi tersebut tersedia cafe dengan konsep alam terbuka, area campsite di pinggir sawah, serta pemandangan alam yang memanjakan mata para pengunjung.

Dalam keterangannya, Suwardi Haseng menyampaikan kekagumannya terhadap keindahan kawasan Buludua.

“Halo, saya Suwardi Haseng. Saat ini berada di Buludua Coffee. Saya sengaja datang di tempat ini tentu dengan destinasi sangat indah,” ujarnya.

Sembari memperlihatkan panorama alam sekitar, ia juga menyoroti suasana kabut yang menjadi ciri khas kawasan tersebut pada sore hari.
(Sumber : Instagram @buluduacoffee)


“Kita lihat di sini ada kabut, sementara jam 4 ini sangat indah sekali. Latar belakangnya adalah Buludua. Inilah yang sebenarnya dikatakan Buludua. Kalau jalanan Buludua arah Takkalala ke Barru, orang mengatakan Buludua,” lanjutnya.

Kunjungan tersebut dinilai sebagai bentuk dukungan nyata pemerintah daerah dalam memperkenalkan dan mengangkat potensi wisata lokal agar semakin dikenal masyarakat luas. Dengan promosi langsung dari kepala daerah, destinasi seperti Buludua Coffee diharapkan mampu menarik minat wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.
Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - RUANG KRITIK