Breaking News

Mahalnya Sebuah Kata Maaf, Refleksi Adab di Rumah Rakyat




SOPPENG.Ruangkritik.com.,  ​Ada sebuah beban yang seringkali terasa lebih berat daripada memikul jabatan, yakni merundukkan hati untuk mengucap satu kata, Maaf. 

Padahal, dalam ruang sosiologis kita, meminta maaf bukanlah pengakuan atas kekalahan, melainkan puncak dari kesadaran manusiawi ketika sebuah batas adab tak sengaja terlampaui.

​Belakangan, publik dipertontonkan pada sebuah drama yang mengusik rasa keadilan dan etika di Kabupaten Soppeng. Dugaan pengancaman dan penganiayaan yang melibatkan Ketua DPRD Soppeng, Andi Farid (AF), terhadap seorang ASN bernama Rusman, bukan lagi sekadar perkara hukum semata. Ini telah menjelma menjadi ujian tentang kedewasaan bersikap dan kepantasan teladan.

​Dalam kearifan lokal kita yang kental dengan nilai sipakatau (saling memanusiakan), ada hukum tak tertulis tentang bagaimana seseorang bersikap di "rumah" orang lain. Ketika AF mendatangi Rusman di kantornya—yang merupakan ruang pengabdian sang ASN—ada etika bertamu yang melekat di sana. ​Sekalipun AF membantah adanya kontak fisik atau ancaman, fakta bahwa ia adalah pihak yang mendatangi menunjukkan sebuah inisiatif posisi.

Terlebih, dalam jenjang usia, AF jauh lebih muda. Secara kultural, kedewasaan seorang pemimpin justru diukur dari keberaniannya untuk meminta maaf lebih dulu kepada yang lebih tua, terlepas dari siapa yang merasa paling benar.

​Sebagai Ketua DPRD, AF memikul marwah institusi yang disebut sebagai "Rumah Rakyat". Posisi itu adalah mandat. Ia adalah wakil dari setiap warga, termasuk wakil dari Rusman sendiri—sosok yang diduga menjadi korban dalam insiden ini. ​Sangatlah ironis ketika seorang wakil rakyat kesulitan menyampaikan maaf kepada rakyat yang ia wakili. Jabatan seharusnya tidak menjadi tembok tinggi yang menghalangi rasa empati, melainkan menjadi jembatan untuk merangkul dan mendinginkan suasana.

​Meminta maaf tidak akan menggugurkan argumen pembelaan di mata hukum, namun ia mampu menyembuhkan luka sosial yang telanjur menganga. Jika seorang pemimpin lebih mengedepankan ego daripada ketulusan, maka ia sedang memberikan pelajaran yang keliru bagi generasi mendatang.

​Kini, masyarakat Soppeng hanya menanti, akankah ketulusan itu hadir? Ataukah harga diri jabatan dianggap jauh lebih mahal daripada sebuah permintaan maaf yang jujur? Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat seberapa kuat seorang pemimpin bertahan dalam pembelaannya, melainkan seberapa besar jiwanya dalam mengakui kekhilafan.

Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - RUANG KRITIK