SOPPENG — Suasana pasca pemilihan kepala daerah (pilkada) kerap menyisakan jarak sosial di tengah masyarakat. Bagi sebagian orang, hubungan yang sempat menghangat saat kontestasi bisa berubah dingin dan kaku, bahkan hingga lama setelah pemungutan suara usai. Hal itu dinilai wajar karena politik lokal tak jarang menyentuh harga diri, relasi pertemanan, hingga keluarga.
Namun pemandangan berbeda terlihat di Kabupaten Soppeng, Sabtu (14/2/2026), saat H. Suwardi Haseng dan Andi Paremma bertemu di sebuah acara pernikahan. Keduanya merupakan kandidat yang pernah berkompetisi dalam Pilkada Soppeng 2024, sekitar setahun lalu.
Dalam acara tersebut, kedua tokoh tampak saling menyapa layaknya kawan lama. Jabat tangan, pelukan hangat, hingga candaan yang memicu gelak tawa menjadi pemandangan yang disaksikan para tamu. Interaksi itu terlihat cair dan spontan, jauh dari kesan formalitas.
Salah seorang kerabat Suwardi Haseng yang turut hadir menyebut sikap itu bukan hal baru. Ia menuturkan bahwa sejak masa kampanye, Suwardi kerap mengingatkan tim dan pendukungnya agar tidak memunculkan permusuhan dalam demokrasi.
“Pak Haji selalu bilang ini demokrasi, jangan munculkan musuh. Semua kandidat punya tujuan baik untuk membangun daerah. Tujuan kita sama,” ujarnya mengenang pesan yang kerap disampaikan pada masa kampanye.
Momen seperti ini memiliki makna simbolik bagi masyarakat. Di tengah memori kompetisi yang keras, mulai dari serangan narasi hingga gesekan antarpendukung, pertemuan hangat antar-eks rival dapat menjadi contoh bahwa kontestasi politik tak harus berujung pada konflik berkepanjangan.
Waktu memang meredakan emosi, tetapi rekonsiliasi nyata kerap lahir dari sikap para elit politik itu sendiri. Pertemuan Suwardi Haseng dan Andi Paremma menjadi pengingat bahwa setelah kontestasi usai, ruang kebersamaan tetap terbuka demi kepentingan daerah yang lebih besar.
0 Komentar