SOPPENG — Di tengah Pasar Ramadhan Sukses 2026, ada satu ruang yang tak pernah benar-benar kosong. Bukan panggung hiburan. Bukan pula lapak kuliner terbesar. Ia hanya hamparan rumput sintetis di atas trap kayu. Lesehan sederhana. Tapi justru di sanalah detak sore terasa paling hidup.
Warga menyebutnya spot flooring. Tempat orang-orang menunggu waktu berbuka dengan cara paling santai. Duduk bersila. Rebah sejenak. Anak-anak berlarian kecil di atas rumput hijau buatan yang terasa empuk di kaki. Remaja bercengkerama. Orang tua mengawasi sambil memegang gelas es buah.
Hampir setiap hari, area ini penuh. Pengunjung yang datang menjelang magrib harus lebih dulu memesan tempat. Tanpa atap. Tanpa sekat. Hanya langit sebagai plafon. Angin sore menjadi pendingin alami. Suasana terasa lebih segar dibanding duduk di kursi plastik berderet.
Flooring ini seperti ruang tamu bersama. Siapa pun bisa duduk tanpa jarak. Tak ada kelas sosial. Tak ada batas lapak. Semua melebur dalam satu hamparan.
Namun ia juga punya tantangan. Jika hujan turun, rumput sintetis itu berubah menjadi arena yang harus segera dikosongkan. Pengunjung berlarian mencari teduh. Pedagang menutup dagangan. Langit menjadi penentu ramai atau sepi.
Meski begitu, pesonanya tak luntur. Justru karena kesederhanaannya, spot ini terasa jujur. Ia tak menjanjikan kemewahan. Hanya kenyamanan.
Di tengah hiruk pikuk transaksi dan aroma gorengan, flooring itu menjadi jeda. Tempat orang-orang belajar sabar bersama. Menunggu azan. Menunggu berbuka.
0 Komentar