Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur —
Masyarakat Kabupaten Ngada dikejutkan oleh kabar meninggalnya seorang bocah sekolah dasar berusia sekitar 10 tahun. Peristiwa ini menjadi perhatian luas setelah dikaitkan dengan kondisi ekonomi keluarga korban.
Berdasarkan informasi yang beredar, korban diduga mengalami tekanan batin karena tidak mampu membeli buku dan pena untuk keperluan sekolah. Kondisi tersebut disebut membuat korban merasa sedih dan terbebani, meski tidak pernah disampaikan secara terbuka kepada orang terdekatnya.
Korban ditemukan meninggal dunia di rumahnya. Setelah kejadian, keluarga menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditinggalkan korban. Menurut keterangan yang beredar, surat tersebut berisi ungkapan perasaan sedih, permintaan maaf kepada orang tua, serta keluhan terkait keterbatasan ekonomi keluarga.
Warga sekitar menyebut korban dikenal sebagai anak pendiam dan jarang mengeluh. Dalam keseharian, korban tetap bersekolah dan beraktivitas seperti biasa, sehingga tidak banyak yang menyadari adanya tekanan psikologis yang dialaminya.
Pihak kepolisian telah menerima laporan kejadian tersebut dan melakukan langkah-langkah awal, termasuk mendatangi lokasi, mengumpulkan keterangan saksi, serta melakukan pendalaman. Berdasarkan keterangan sementara, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau keterlibatan pihak lain. Proses penanganan dilakukan dengan hati-hati dan tetap memperhatikan kondisi keluarga korban.
Peristiwa ini memicu keprihatinan berbagai pihak dan menjadi pengingat bahwa tekanan psikologis pada anak dapat muncul dari persoalan yang terlihat sederhana. Keterbatasan ekonomi, jika tidak diimbangi dengan pendampingan dan komunikasi yang baik, dapat berdampak serius pada kondisi mental anak.
Masyarakat, keluarga, dan pihak sekolah diimbau untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak serta menciptakan lingkungan yang aman dan terbuka bagi anak untuk menyampaikan keluhannya. Pemerintah juga menyediakan Layanan Kesehatan Jiwa 119 ext. 8 (SEJIWA) bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan kesehatan mental.
Kasus ini diharapkan menjadi perhatian bersama agar perlindungan terhadap anak, baik secara fisik maupun psikologis, semakin diperkuat dan kejadian serupa tidak kembali terulang.
0 Komentar